MA’RIFAH DENGAN ALIF DAN LAM
v أَلْ حَرْفُ تَعْرِيْفٍ أَوِ الَّامُ فَقَطْ فَنَمَطٌ عَرَّفْتَ قُلْ
فِيْهِ النَّمَطْ
Artinya: alif lam itu huruf ta’rif atau lamnya saja. Maka lafal نَمَطٌ yang kamu ma’rifahkan, ucapkanlah النَّمَطٌ
(Syarah Bet)
para ulama nahwu berbeda pendapat
mengenai alif dan lam. Seperti alif lam pada kata الرَّجُلُ , maka menurut khalil kalimat tersebut ma’rifah
dengan alif lam yang hamzah dari pada alif dan lam itu adalah hamzah qatha’,
sedangkan menurut sibawaihi bahwa kalimat tersebut ma’rifah dengan lam
saja dan hamzah dari pada alif dan lam itu adalah hamzah washal yang dibawakan
untuk berbicara dengan sukun hamzah.
Alif dan lam ma’rifah itu
dipakaikan untuk ‘ahdi (khudur, zikkri, dzihni) atau istighraq (afrad jenis, khasaisu
al-afrad, mahiyah).
v وَ قَدْ تُزَادُ لَازِمًا كَاللَّاتِ وَ الْآنَ وَ
الَّذِيْنَ ثُمَّ اللَّاتِ
v وَ لِاضْطِرَارِ كَبَنَاتِ
الْأَوْبَرِ كَذَا
وَ طِبْتَ النَّفْسَ يَا قَيْسُ السَّرِى
Artinya: kadang alif lam itu harus ditambahkan
seperti اَللَّاتِ
(nama berhala), الْآنَ (zharaf zaman), الَّذِيْنَ dan اللَّاتِ (isim maushul). Dan alif lam juga ditambahkan
karena dharurat nazham seperti بَنَاتُ ألْأَوْبَرِ , demikian juga seperti طِبْتَ النَّفْسَ
(Syarah Bet).
Dari kedua bet diatas mushannif
menyebutkan bahwa alif lam itu terkadang hanya sebagai ziyadah, alif lam
ziyadah ini terbagi kepada 2 bagian, yaitu: alif lam ziyadah lajim dan ghoiru
lajim.
1.
Alif lam ziyadah lajim
Adapun contoh alif lam lajim
seperti اللَّاتِ (yang digunakan untuk nama berhala yang berada
di makkah), dan alif lam yang ada pada الْآنَ (zharaf
zaman dibina atas fatah), dalam hal ini ada perbedaan pendapat tentang الْآن yang
menurut mazhab qaum mengatakan bahwa alif lam itu adalah ta’rifu al-khudur
seperti dikatakan مَرَرْتُ بِهَذَا الرَّجُلُ الْآنَ jadi pada الْآن itu adalah ‘ahdi
khudur yang bermakna pada waktu ini, dan bukan sebagai alif lam za’idah.
Sedangkan menurut mushannif dan sebahagian dari qaum mengatakan bahwa alif lam
pada الْآن itu adalah
ziyadah dan dia dibina karena mengandung makna huruf dan lam itu adalah khudur.
Begitu juga dikatakan ziyadah
pada alif dan lam الَّذِيْنَ dan اللَّاتِ daripada isim maushul, adanya
alif lam tersebut dapat mema’rifahkan isim maushul yang mempunyai shilat. Dan
menurut mazhab qaum bahwa alif dan lam tersebut adalah alif lam ziyadah,
sedangkan memilih oleh mushannif dan qaum bahwa alif dan lam itu mema’rifahkan
isim maushul yang terkhusus pada seumpama الَّذِى dan kawan-kawannya, selain dari pada itu maka isim
maushulnya dibina dan ma’rifahnya itu dengan idhafah, dikecualikan isim maushul
yang bina adalah أي maka atas dasar itu menurut pendapat ini bahwa alif
lam itu bukan ziyadah.
2.
Alif lam ziyadah ghoiru lajim
Adapun alif lam ziyadah ghoiru
lajim maka dia masuk kedalam suatu kalimat karena mudharat atas suatu
pengatahuan. Seperti pada بَنَاتُ الأَوْبَرِ asalnya adalah بَنَاتُ أَوْبَرِ hanya saja alif lam itu adalah ziyadah, tetapi
menurut al-mubarrid tidaklah pada بَنَاتُ الأَوْبَرِ itu berupa pengetahuan, maka atas dasar itu manurutnya
alif lam itu bukan sebagai ziyadah. Begitu juga dikatakan ziyadah pada seumpama
طِبْتَ النَّفْسَ asalnya adalah طِبْتَ نَفْسَ , dalam hal ini menurut ulama
bashariin kalimat طِبْتَ النَّفْسَ itu adalah
tamyiz yang harus berbentuk nakiroh,
sedangkan menurut ulama kuffiyin boleh tamyiz itu ma’rifah, maka atas dasar itu
alif lam itu adalah bukan zi’idah.
v وَ بَعْضُ الْأَعْلَامِ عَلَيْهِ
دَخَلَا لِلَمْحِ مَا
قَدْ كَانَ عَنْهُ نُقِلَا
v كَالْفَضْلِ وَ الْحَارِثِ وَ
النُّعْمَانِ فَذِكْرُ
ذَا وَ حَذْفُهُ سِيَّانِ
Artinya: sebahagian alam-alam suka ditambah alif lam
karena melihat kepada asal kalimat yang dikutipnya (sebelum dijadikan alam).
Seperti الْفَضْلُ
, الْحَارِثِ dan النُّعْمَانِ yang dipakai nama orang. Maka
membacanya alif lam dan membuangnya sama saja.
(Syarah Bet)
Sebagaimana mushannif telah
menjelaskan bahwa alif lam itu ada yang sebagai ma’rifah dan ada juga sebagai
za’idah, kemudian dalam dua bet ini disebutkan bahwa ada juga alif lam lamhi
yaitu alif lam yang masuk pada alamiyah manqul yang patut dimasuki oleh alif
dan lam. Seperti pada حسن menjadi الحسن ,
kebanyakan alamiyah manqul itu dimasuki oleh alif lam pada shifat, seperti: حَارِث menjadi الحَارث ,dan kadang
kadang juga pada manqul mashdar, seperti: فَضْلٌ menjadi الْفَضْلُ , dan masuk juga pada manqul isim jenis bukan
berbentuk mashdar,seperti: نُعْمَانُ menjadi النُّعْمَانُ
Maka boleh masuk alif lam pada
tiga keadaan tersebut (manqul shifat, mashdar, isim jenis) karena dilihat
kepada asal, dan boleh juga membuangkan alif lam itu karena diliihat kepad hal.
Hanya saja masuk alif lam pada manqul tersebut (alif lam lamhi) berfaedah
sebagai menjaga/mengingatkan kepada barang yang dipindahkan. Kesimpulannya
bahwa alif lam yang masuk kepada tiap-tiap keadaan itu adalah sebagai tafa’ul
yang memfaedahkan makna, maka atas dasar itu aliflam itu tidak dikatakan
sebagai za’idah, berbeda dengan pendapat yang mengatakan itu adalah ziyadah.
v وَ قَدْ يَصِيْرُ عَلَمًا
بِالْغَلَبَهْ مُضَافٌ
أَوْ مَصْحُوْبُ أَلْ كَالْعَقَبَهْ
v وَ حَذْفُ أَلْ ذِي اِنْ تُنَادِ أَوْ
تُضِفْ أَوْجِبْ وَ فِيْ
غَيْرِهِمَا قَدْ تَنْحَذِفْ
Artinya: kadang-kadang ada lafal yang menjadi alam
karena gholabah, yaitu lafal yang diidhafatkan atau disertai alif lam seperti الْعَقَبَهْ , dan membuang alif lam lilgholabah ini jika kamu nida’kan atau di
idhafahkan maka wajib dibuangkan alif lam atau pada selain inida’ dan idhafah
(Syarah Bet)
Sebahagian dari pada pembagian alif lam adalah alif lam gholabah
, seperti pada kalimat المَديْنَة dan الكِتاب , alif lam yang masuk pada tiap-tiap kalimat tersebut
menunjukkan kepada madinah dan kitab, tetapi madinah itu tertuju kepada madinah
rasulullah saw, dan kitab disini tertuju kepada kitab sibawihi karena dimasuki
oleh alif lam gholabah.
Alif lam gholabah ini tidak boleh
dibuangkan melainkan apabila dimasuki oleh nida’ atau di idhafahkan
, seperti الصَّعِقُ jika masuk nida’ wajib dibuangkan alif lam
maka menjadi يَا صَعِقُ , begitu juga apabila di idhafahkan maka wajib
juga membuangkan alif lam, seperti الْمَدِيْنَةُ jika di idhafahkan menjadi هَذِه مَدِيْنَةُ الرَّسُوْلُ
اللهِ, kadang-kadang alif lam gholabah
dibuangkan tanpa sebab nida’ atau idhafah, tapi ini jarang terjadi, seperti: هَذَا عُيُوقُ طَالِعًا asal pada عُيُوقُ adalah الْعُيُوْقٌ , ada juga kalimat isim alam gholabah dengan cara di idhafatkan, seperti ابن عمر, ابن مسعود, ابن عباس , maka ketika dikatakan ابن عمر tidak ada
yang lain melainkan “ABDULLAH”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar