Jumat, 10 Januari 2014

ma'rifah dengan alif lam

MA’RIFAH DENGAN ALIF DAN LAM
v     أَلْ  حَرْفُ تَعْرِيْفٍ أَوِ الَّامُ فَقَطْ                    فَنَمَطٌ عَرَّفْتَ قُلْ فِيْهِ النَّمَطْ
Artinya:     alif lam itu huruf ta’rif atau lamnya saja. Maka lafal نَمَطٌ  yang kamu ma’rifahkan, ucapkanlah النَّمَطٌ  

(Syarah Bet)
para ulama nahwu berbeda pendapat mengenai alif dan lam. Seperti alif lam pada kata الرَّجُلُ  , maka menurut khalil kalimat tersebut ma’rifah dengan alif lam yang hamzah dari pada alif dan lam itu adalah hamzah qatha’, sedangkan menurut sibawaihi bahwa kalimat tersebut ma’rifah dengan lam saja dan hamzah dari pada alif dan lam itu adalah hamzah washal yang dibawakan untuk berbicara dengan sukun hamzah.
Alif dan lam ma’rifah itu dipakaikan untuk ‘ahdi (khudur, zikkri, dzihni) atau istighraq (afrad jenis, khasaisu al-afrad, mahiyah).
v     وَ قَدْ تُزَادُ لَازِمًا كَاللَّاتِ                           وَ الْآنَ وَ الَّذِيْنَ ثُمَّ اللَّاتِ
v     وَ لِاضْطِرَارِ كَبَنَاتِ الْأَوْبَرِ                          كَذَا وَ طِبْتَ النَّفْسَ يَا قَيْسُ السَّرِى
Artinya:     kadang alif lam itu harus ditambahkan seperti اَللَّاتِ  (nama berhala), الْآنَ  (zharaf zaman), الَّذِيْنَ  dan اللَّاتِ  (isim maushul). Dan alif lam juga ditambahkan karena dharurat nazham seperti بَنَاتُ ألْأَوْبَرِ  , demikian juga seperti طِبْتَ النَّفْسَ  




(Syarah Bet).
Dari kedua bet diatas mushannif menyebutkan bahwa alif lam itu terkadang hanya sebagai ziyadah, alif lam ziyadah ini terbagi kepada 2 bagian, yaitu: alif lam ziyadah lajim dan ghoiru lajim.
1.        Alif lam ziyadah lajim
Adapun contoh alif lam lajim seperti اللَّاتِ  (yang digunakan untuk nama berhala yang berada di makkah), dan alif lam yang ada pada الْآنَ (zharaf zaman dibina atas fatah), dalam hal ini ada perbedaan pendapat tentang الْآن yang menurut mazhab qaum mengatakan bahwa alif lam itu adalah ta’rifu al-khudur seperti dikatakan مَرَرْتُ بِهَذَا الرَّجُلُ الْآنَ  jadi pada الْآن itu adalah ‘ahdi khudur yang bermakna pada waktu ini, dan bukan sebagai alif lam za’idah. Sedangkan menurut mushannif dan sebahagian dari qaum mengatakan bahwa alif lam pada  الْآن itu adalah ziyadah dan dia dibina karena mengandung makna huruf dan lam itu adalah khudur.
Begitu juga dikatakan ziyadah pada alif dan lam الَّذِيْنَ  dan اللَّاتِ daripada isim maushul, adanya alif lam tersebut dapat mema’rifahkan isim maushul yang mempunyai shilat. Dan menurut mazhab qaum bahwa alif dan lam tersebut adalah alif lam ziyadah, sedangkan memilih oleh mushannif dan qaum bahwa alif dan lam itu mema’rifahkan isim maushul yang terkhusus pada seumpama الَّذِى  dan kawan-kawannya, selain dari pada itu maka isim maushulnya dibina dan ma’rifahnya itu dengan idhafah, dikecualikan isim maushul yang bina adalah أي  maka atas dasar itu menurut pendapat ini bahwa alif lam itu bukan ziyadah.
2.        Alif lam ziyadah ghoiru lajim
Adapun alif lam ziyadah ghoiru lajim maka dia masuk kedalam suatu kalimat karena mudharat atas suatu pengatahuan. Seperti pada بَنَاتُ الأَوْبَرِ  asalnya adalah بَنَاتُ أَوْبَرِ hanya saja alif lam itu adalah ziyadah, tetapi menurut al-mubarrid tidaklah pada بَنَاتُ الأَوْبَرِ itu berupa pengetahuan, maka atas dasar itu manurutnya alif lam itu bukan sebagai ziyadah. Begitu juga dikatakan ziyadah pada seumpama طِبْتَ النَّفْسَ  asalnya adalah طِبْتَ نَفْسَ  , dalam hal ini menurut ulama bashariin kalimat طِبْتَ النَّفْسَ itu adalah tamyiz  yang harus berbentuk nakiroh, sedangkan menurut ulama kuffiyin boleh tamyiz itu ma’rifah, maka atas dasar itu alif lam itu adalah bukan zi’idah.
v     وَ بَعْضُ الْأَعْلَامِ عَلَيْهِ دَخَلَا                       لِلَمْحِ مَا قَدْ كَانَ عَنْهُ نُقِلَا
v     كَالْفَضْلِ وَ الْحَارِثِ وَ النُّعْمَانِ                     فَذِكْرُ ذَا وَ حَذْفُهُ سِيَّانِ
Artinya:     sebahagian alam-alam suka ditambah alif lam karena melihat kepada asal kalimat yang dikutipnya (sebelum dijadikan alam). Seperti الْفَضْلُ  , الْحَارِثِ dan النُّعْمَانِ   yang dipakai nama orang. Maka membacanya alif lam dan membuangnya sama saja.

(Syarah Bet)
Sebagaimana mushannif telah menjelaskan bahwa alif lam itu ada yang sebagai ma’rifah dan ada juga sebagai za’idah, kemudian dalam dua bet ini disebutkan bahwa ada juga alif lam lamhi yaitu alif lam yang masuk pada alamiyah manqul yang patut dimasuki oleh alif dan lam. Seperti pada حسن  menjadi الحسن , kebanyakan alamiyah manqul itu dimasuki oleh alif lam pada shifat, seperti: حَارِث  menjadi الحَارث ,dan kadang kadang juga pada manqul mashdar, seperti: فَضْلٌ  menjadi الْفَضْلُ  , dan masuk juga pada manqul isim jenis bukan berbentuk mashdar,seperti: نُعْمَانُ  menjadi النُّعْمَانُ  
Maka boleh masuk alif lam pada tiga keadaan tersebut (manqul shifat, mashdar, isim jenis) karena dilihat kepada asal, dan boleh juga membuangkan alif lam itu karena diliihat kepad hal. Hanya saja masuk alif lam pada manqul tersebut (alif lam lamhi) berfaedah sebagai menjaga/mengingatkan kepada barang yang dipindahkan. Kesimpulannya bahwa alif lam yang masuk kepada tiap-tiap keadaan itu adalah sebagai tafa’ul yang memfaedahkan makna, maka atas dasar itu aliflam itu tidak dikatakan sebagai za’idah, berbeda dengan pendapat yang mengatakan itu adalah ziyadah.
v     وَ قَدْ يَصِيْرُ عَلَمًا بِالْغَلَبَهْ                           مُضَافٌ أَوْ مَصْحُوْبُ أَلْ كَالْعَقَبَهْ
v     وَ حَذْفُ أَلْ ذِي اِنْ تُنَادِ أَوْ تُضِفْ               أَوْجِبْ وَ فِيْ غَيْرِهِمَا قَدْ تَنْحَذِفْ
Artinya:     kadang-kadang ada lafal yang menjadi alam karena gholabah, yaitu lafal yang diidhafatkan atau disertai alif lam seperti الْعَقَبَهْ  , dan membuang alif lam lilgholabah ini jika kamu nida’kan atau di idhafahkan maka wajib dibuangkan alif lam atau pada selain inida’ dan idhafah

(Syarah Bet)
Sebahagian dari pada pembagian alif lam adalah alif lam gholabah , seperti pada kalimat المَديْنَة dan الكِتاب  , alif lam yang masuk pada tiap-tiap kalimat tersebut menunjukkan kepada madinah dan kitab, tetapi madinah itu tertuju kepada madinah rasulullah saw, dan kitab disini tertuju kepada kitab sibawihi karena dimasuki oleh alif lam gholabah.
Alif lam gholabah ini tidak boleh dibuangkan melainkan apabila dimasuki oleh nida’ atau di idhafahkan , seperti الصَّعِقُ  jika masuk nida’ wajib dibuangkan alif lam maka menjadi يَا صَعِقُ  , begitu juga apabila di idhafahkan maka wajib juga membuangkan alif lam, seperti الْمَدِيْنَةُ  jika di idhafahkan menjadi هَذِه مَدِيْنَةُ الرَّسُوْلُ اللهِ, kadang-kadang alif lam gholabah dibuangkan tanpa sebab nida’ atau idhafah, tapi ini jarang terjadi, seperti: هَذَا عُيُوقُ طَالِعًا  asal pada عُيُوقُ adalah الْعُيُوْقٌ  , ada juga kalimat isim alam gholabah dengan cara  di idhafatkan, seperti ابن عمر, ابن مسعود, ابن عباس  , maka ketika dikatakan ابن عمر tidak ada yang lain melainkan “ABDULLAH”

وَ اللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ





Tidak ada komentar:

Posting Komentar