Kamis, 03 April 2014

TELUR HARAM DIMAKAN

TELUR HARAM DIMAKAN
Oleh: Irvan Mustofa Sembiring
Santri Dayah Nurul Jadid

Telur adalah satu jenis makanan yang kaya akan protein dan halal serta baik. Telur tidak asing lagi bagi kalangan masyarakat untuk mengosumsinya, karena telur termasuk salah satu jenis makanan yang sangat mudah untuk di kosumsi. Namun, tidak sedikit juga orang yang mengetahui bagaimana telur itu dikonsumsi secara baik, benar dan sah menurut pandangan islam. Bahkan tidak sedikit kita jumpai orang yang menjual makanan yang dicampur dengan telur tersebut.
Banyak orang yang keliru dan sepele dalam masalah telur ini. Alasannya, telur itu adalah sesuatu yang dikeluarkan dari dalam perut hewan. Dalam hukum islam sesuatu yang keluar dari perut itu dihukumkan najis pada basah-basahnya, lebih-lebih lagi telur ini keluar dari mahal najis dan basah. Secara pintas jika telur itu kita lihat maka dia adalah suatu benda yang bersih, padahal kulitnya itu yang sudah basah dari dalam maka kulitnya itu dapat dihukumi sebagai mutanajis.
Imam nawawi dalam matan minhaznya mengatakan bahwa “yang berbentuk ‘alaqah (segumpal darah) dan mudhghah (segumpal daging) dan basah-basah pada faraj manusia itu tidak bernajis menurut pendapat yang ashah (kuat)”.  Hal ini, imam nawawi beralasan seperti imam Jalaluddin menjelaskan bahwa “alaqah (segumpal darah) dan mudhghah (segumpal daging) itu asal dari manusia maka sama seperti air mani yang suci, sedangkan basah-basah pada faraj itu sama seperti air keringat juga suci”. Ini jelas sekali menurut pendapat imam nawawi tersebut, bahwasanya segumpal darah, segumpal daging dan basah-basah pada kemaluan manusia itu tidak dihukumkan naji.
Maka menjadi pertanyaan adalah bagaimana segumpal darah, segumpal daging, dan basah-basah pada faraj (saluran kencing dan tahi) hewan itu suci?
Imam Jalaluddin mengatakan bahwa “yang tiga itu (segumpal darah, segumpal daging, dan basah faraj) yang ada pada bukan manusia lebih aula dengan najisnya, maka dari itu jika dilihat dari poin ketiga tentang basah faraj maka bernajislah telur”. Disini dapatlah kita ketahui sebagaimana penjelasan imam Jalaluddin tersebut bahwa segumpal darah, segumpal daging, dan basah-basah pada faraj binatang itu dihukumi najis.
Telur yang keluar dari binatang melalui faraj nya, itu dapat dihukumi mutanajis (kena najis), karena telur yang keluar dari binatang itu basah, sedangkan basah-basah telur itu mengenai pada faraj hewan itu, maka basah-basah itu najis. Maka dari ini dapatlah kita hukumkan telur itu adalah benda yang kena najis pada bagian luarnya.
Ketika telur itu dikonsumsi oleh masyarakat secara langsung, dengan cara memecahkan telur itu dan air dalam telur itu mengenai bagian luar yang kena najis, maka secara otomatis isi telur yang cair itu juga akan bernajis, sehingga ketika dimakan setelah dikonsumsi dengan sedemikin rupa dalam keadaan najis, maka tidak dapat juga kita hindarkan ketika memakan telur tersebut dalam keadaan bernajis, sedangkan dalam hukum islam diharamkan memakan yang bernajis, maka memakan telur yang kena najis dimakan juga diharamkan.

Maka dalam hal ini, sebagai umat islam dan masyarakat pada umumnya supaya hal ini harus sangat berhati-hati, dengan cara mengsumsi telur tersebut agar dicuci dengan air yang suci menyucikan terlebih dahulu, kemudian mengosumsinya.

Jumat, 10 Januari 2014

kana dan saudaranya

KANA dan SAUDARA-SAUDARANYA
ترفع كان المبتدا اسما و الخبر                 تنصبه ككان سيّدا عمر
ككان ظلّ بات أضحى أصبحا                أمسى و صار ليسى زال برحا
فتئ و انفكّ و هذى الأربعة                  لشبه نفي أو لنفي متبعه 
و مثل كان دام مسبوقا بما                   كأعط ما دمت مصيبا درهما
Artinya:          
-          lafal كان itu merofa’kan mubtada dan menasabkan khobar yang menjadi isimnya, seperti: كان عمر سيدا
-          yang sama seperti lafal كان adalah ظلّ بات أضحى أصبح أمسى صار ليسى زال برحا فتئ  انفكّ
-          adapun yang empat ini (زال برحا فتئ  انفكّ) dia bisa seperti كان dengan syarat disertai dengan nafi atau nafi yang ditaqdirkan
-          semisal dengan كان adalah دام  yang didahului oleh ma masdariyah zharfiyah. Seperti أعط ما دمت مصيبا درهما

(Syarah Bet)
Ini masalah nawasikh ibtida’. Nawasikh ibtida’ itu terbagi kepada 2 bahagian,
A.    berbentuk fi’il
seperti kana dan saudara2nya, fi’il2 muqarabah, zhonna dan saudara2nya.
B.     berbentuk huruf
seperti ما dan saudara2nya, لا nafi jinsi, dan  ان dan saudara2nya.
1.    Berbentuk fi’il
Disini disebutkan tentang كان dan saudara2nya, para ulama sepakat mengatakan kalau كان dan kawan2nya adalah fi’il kecuali ليسى , menurut pendapat zumhur ulama mengatakan bahwa ليسى itu adalah fi’il, sedangkan menurut al-Farisi dan Abu Bakar bin Syuqay dalam salah satu pendapatnya mengatakan bahwa ليسى itu adalah huruf, dalam arti ليسى itu adalah huruf yang merofa’kan isim (mubtada) dan menasabkan khobarnya.
Fi’il-fi’il ini terbagi kepada 2 bahagian:
a.       Kalimat yang beramal rofa’ isim nasab khobar tanpa syarat, yaitu كان ظلّ بات أضحى أصبح أمسى صار ليسى  
b.      Kalimat yang beramal rofa’ isim nasab khobar dengan syarat. Syarat ini terbagi kepada 2:
-           di dahului nafi atau syibih nafi (nafi yang di taqdirkan), ini terjadi pada زال برحا فتئ  انفكّ. Contoh nafi secara lafaz ما زال زيد قائم . contoh syibih nafi (nafi yang  ditaqdirkan) seperti dalam firman Allah: قالوا تاالله تفتؤ تذكر يوسف taqdirnya adalah لا تفتؤ تذكر  . Nafi ini tidak dibuangkan melainkan setelah kalimat sumpah, itupun jarang terjadi.

-          Di dahului oleh MA MASHDARIYAH ZHORFIYAH, ini terjadi pada kalimat دام . seperti dalam contoh أعط ما دمت مصيبا درهما  pada asalnya adalah  أعط مدة دوامك مصبا درهما  masih dalam contoh ini firman Allah Ta’al:  و أوصاني بالصّلاة و الزّكاة ما دمت حيا asal dari ما دمت حيا (MA DUMTU HAYYAN) adalah  مدة دوامي حيا

ma'rifah dengan alif lam

MA’RIFAH DENGAN ALIF DAN LAM
v     أَلْ  حَرْفُ تَعْرِيْفٍ أَوِ الَّامُ فَقَطْ                    فَنَمَطٌ عَرَّفْتَ قُلْ فِيْهِ النَّمَطْ
Artinya:     alif lam itu huruf ta’rif atau lamnya saja. Maka lafal نَمَطٌ  yang kamu ma’rifahkan, ucapkanlah النَّمَطٌ  

(Syarah Bet)
para ulama nahwu berbeda pendapat mengenai alif dan lam. Seperti alif lam pada kata الرَّجُلُ  , maka menurut khalil kalimat tersebut ma’rifah dengan alif lam yang hamzah dari pada alif dan lam itu adalah hamzah qatha’, sedangkan menurut sibawaihi bahwa kalimat tersebut ma’rifah dengan lam saja dan hamzah dari pada alif dan lam itu adalah hamzah washal yang dibawakan untuk berbicara dengan sukun hamzah.
Alif dan lam ma’rifah itu dipakaikan untuk ‘ahdi (khudur, zikkri, dzihni) atau istighraq (afrad jenis, khasaisu al-afrad, mahiyah).
v     وَ قَدْ تُزَادُ لَازِمًا كَاللَّاتِ                           وَ الْآنَ وَ الَّذِيْنَ ثُمَّ اللَّاتِ
v     وَ لِاضْطِرَارِ كَبَنَاتِ الْأَوْبَرِ                          كَذَا وَ طِبْتَ النَّفْسَ يَا قَيْسُ السَّرِى
Artinya:     kadang alif lam itu harus ditambahkan seperti اَللَّاتِ  (nama berhala), الْآنَ  (zharaf zaman), الَّذِيْنَ  dan اللَّاتِ  (isim maushul). Dan alif lam juga ditambahkan karena dharurat nazham seperti بَنَاتُ ألْأَوْبَرِ  , demikian juga seperti طِبْتَ النَّفْسَ  




(Syarah Bet).
Dari kedua bet diatas mushannif menyebutkan bahwa alif lam itu terkadang hanya sebagai ziyadah, alif lam ziyadah ini terbagi kepada 2 bagian, yaitu: alif lam ziyadah lajim dan ghoiru lajim.
1.        Alif lam ziyadah lajim
Adapun contoh alif lam lajim seperti اللَّاتِ  (yang digunakan untuk nama berhala yang berada di makkah), dan alif lam yang ada pada الْآنَ (zharaf zaman dibina atas fatah), dalam hal ini ada perbedaan pendapat tentang الْآن yang menurut mazhab qaum mengatakan bahwa alif lam itu adalah ta’rifu al-khudur seperti dikatakan مَرَرْتُ بِهَذَا الرَّجُلُ الْآنَ  jadi pada الْآن itu adalah ‘ahdi khudur yang bermakna pada waktu ini, dan bukan sebagai alif lam za’idah. Sedangkan menurut mushannif dan sebahagian dari qaum mengatakan bahwa alif lam pada  الْآن itu adalah ziyadah dan dia dibina karena mengandung makna huruf dan lam itu adalah khudur.
Begitu juga dikatakan ziyadah pada alif dan lam الَّذِيْنَ  dan اللَّاتِ daripada isim maushul, adanya alif lam tersebut dapat mema’rifahkan isim maushul yang mempunyai shilat. Dan menurut mazhab qaum bahwa alif dan lam tersebut adalah alif lam ziyadah, sedangkan memilih oleh mushannif dan qaum bahwa alif dan lam itu mema’rifahkan isim maushul yang terkhusus pada seumpama الَّذِى  dan kawan-kawannya, selain dari pada itu maka isim maushulnya dibina dan ma’rifahnya itu dengan idhafah, dikecualikan isim maushul yang bina adalah أي  maka atas dasar itu menurut pendapat ini bahwa alif lam itu bukan ziyadah.
2.        Alif lam ziyadah ghoiru lajim
Adapun alif lam ziyadah ghoiru lajim maka dia masuk kedalam suatu kalimat karena mudharat atas suatu pengatahuan. Seperti pada بَنَاتُ الأَوْبَرِ  asalnya adalah بَنَاتُ أَوْبَرِ hanya saja alif lam itu adalah ziyadah, tetapi menurut al-mubarrid tidaklah pada بَنَاتُ الأَوْبَرِ itu berupa pengetahuan, maka atas dasar itu manurutnya alif lam itu bukan sebagai ziyadah. Begitu juga dikatakan ziyadah pada seumpama طِبْتَ النَّفْسَ  asalnya adalah طِبْتَ نَفْسَ  , dalam hal ini menurut ulama bashariin kalimat طِبْتَ النَّفْسَ itu adalah tamyiz  yang harus berbentuk nakiroh, sedangkan menurut ulama kuffiyin boleh tamyiz itu ma’rifah, maka atas dasar itu alif lam itu adalah bukan zi’idah.
v     وَ بَعْضُ الْأَعْلَامِ عَلَيْهِ دَخَلَا                       لِلَمْحِ مَا قَدْ كَانَ عَنْهُ نُقِلَا
v     كَالْفَضْلِ وَ الْحَارِثِ وَ النُّعْمَانِ                     فَذِكْرُ ذَا وَ حَذْفُهُ سِيَّانِ
Artinya:     sebahagian alam-alam suka ditambah alif lam karena melihat kepada asal kalimat yang dikutipnya (sebelum dijadikan alam). Seperti الْفَضْلُ  , الْحَارِثِ dan النُّعْمَانِ   yang dipakai nama orang. Maka membacanya alif lam dan membuangnya sama saja.

(Syarah Bet)
Sebagaimana mushannif telah menjelaskan bahwa alif lam itu ada yang sebagai ma’rifah dan ada juga sebagai za’idah, kemudian dalam dua bet ini disebutkan bahwa ada juga alif lam lamhi yaitu alif lam yang masuk pada alamiyah manqul yang patut dimasuki oleh alif dan lam. Seperti pada حسن  menjadi الحسن , kebanyakan alamiyah manqul itu dimasuki oleh alif lam pada shifat, seperti: حَارِث  menjadi الحَارث ,dan kadang kadang juga pada manqul mashdar, seperti: فَضْلٌ  menjadi الْفَضْلُ  , dan masuk juga pada manqul isim jenis bukan berbentuk mashdar,seperti: نُعْمَانُ  menjadi النُّعْمَانُ  
Maka boleh masuk alif lam pada tiga keadaan tersebut (manqul shifat, mashdar, isim jenis) karena dilihat kepada asal, dan boleh juga membuangkan alif lam itu karena diliihat kepad hal. Hanya saja masuk alif lam pada manqul tersebut (alif lam lamhi) berfaedah sebagai menjaga/mengingatkan kepada barang yang dipindahkan. Kesimpulannya bahwa alif lam yang masuk kepada tiap-tiap keadaan itu adalah sebagai tafa’ul yang memfaedahkan makna, maka atas dasar itu aliflam itu tidak dikatakan sebagai za’idah, berbeda dengan pendapat yang mengatakan itu adalah ziyadah.
v     وَ قَدْ يَصِيْرُ عَلَمًا بِالْغَلَبَهْ                           مُضَافٌ أَوْ مَصْحُوْبُ أَلْ كَالْعَقَبَهْ
v     وَ حَذْفُ أَلْ ذِي اِنْ تُنَادِ أَوْ تُضِفْ               أَوْجِبْ وَ فِيْ غَيْرِهِمَا قَدْ تَنْحَذِفْ
Artinya:     kadang-kadang ada lafal yang menjadi alam karena gholabah, yaitu lafal yang diidhafatkan atau disertai alif lam seperti الْعَقَبَهْ  , dan membuang alif lam lilgholabah ini jika kamu nida’kan atau di idhafahkan maka wajib dibuangkan alif lam atau pada selain inida’ dan idhafah

(Syarah Bet)
Sebahagian dari pada pembagian alif lam adalah alif lam gholabah , seperti pada kalimat المَديْنَة dan الكِتاب  , alif lam yang masuk pada tiap-tiap kalimat tersebut menunjukkan kepada madinah dan kitab, tetapi madinah itu tertuju kepada madinah rasulullah saw, dan kitab disini tertuju kepada kitab sibawihi karena dimasuki oleh alif lam gholabah.
Alif lam gholabah ini tidak boleh dibuangkan melainkan apabila dimasuki oleh nida’ atau di idhafahkan , seperti الصَّعِقُ  jika masuk nida’ wajib dibuangkan alif lam maka menjadi يَا صَعِقُ  , begitu juga apabila di idhafahkan maka wajib juga membuangkan alif lam, seperti الْمَدِيْنَةُ  jika di idhafahkan menjadi هَذِه مَدِيْنَةُ الرَّسُوْلُ اللهِ, kadang-kadang alif lam gholabah dibuangkan tanpa sebab nida’ atau idhafah, tapi ini jarang terjadi, seperti: هَذَا عُيُوقُ طَالِعًا  asal pada عُيُوقُ adalah الْعُيُوْقٌ  , ada juga kalimat isim alam gholabah dengan cara  di idhafatkan, seperti ابن عمر, ابن مسعود, ابن عباس  , maka ketika dikatakan ابن عمر tidak ada yang lain melainkan “ABDULLAH”

وَ اللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ





isim maushul

ISIM MAUSHUL
v      موصول الأسماء الذى الأنثى التى                 و اليا اذا ما ثنيا لا تثبت
v      بل ما تليه اوله العلامة                                       و النون ان تشدد فلا ملامة
v      و النون من ذين و تين شددا                      ايضا و تعويضا بذاك قصدا
A.      Maushul Harfi
Isim maushul itu terbagi kepada ismi dan harfi, dan mushannif tidak menyebutkan isim isim maushul harfiyah, ismiyah itu ada 5 huruf, salah satunya an mashdariyah yang bersambung dengan fi’il yang mutasharruf, apakah itu fi’il madhi , mudhari’, dan amar. Contoh jika bersambung dengan fi’il madhi  عجبت من أن قام زيد    jika bersambung dengan fi’il mudhari’ عجبت من أن يقوم زيد   jika bersambung dengan fi’il amar أشرت اليه بأن قم  . apabila setelah an mashdariyah itu bukan fi’il yang tasharruf maka maka an itu ditakhfifkan dari mustaqqalnya, contoh dalam firman allah و أن ليس للانسان إلا ما سعى   
Sebagian dari pada maushul harfi adalah "أنَّ "  yang bersambung dengan isimnya dan khabarnya, contoh عجبت من أن زيدا قائم  
Sebagian dari maushul harfi adalah "أنّ"  yang ditakhfifkan begitu juga yang dimutsaqqalkan yang bersambung dengan isimnya dan khabarnya akan tetapi isimnya dibuang apabila ditakhfifkan “an” dan isim itu tidak dibuang apabila “an” itu di tatsqilkan
Sebagian dari maushul harfi adalah "كي"  yang bersambung dengan fi’il mudhari’ saja. Contoh جئت لكي تكرم زيدا  .
Sebagian dari maushul harfi adalah " ما "   mashdariyah zharfiyah dan goiru zharfiyah yang bersambung dengan fi’il mudhari’ dan fi’il madhi. Contoh pada fi’il madhi dengan ما  zharfiyah  لا أصحبك ما دمت منطلقا  . ما دمت  dalam ta’wil mashdarnya adalah مدة دوامك منطاقا   adapun dengan ghiru zharfiayah contoh عجبت مما ضربت زيدا  , adapun yang bersambung dengan fi’il mudhari’ contohnya عجبت مما تضرب زيدا  . tidak hanya ما  maushul tersebut bersambung dengan fi’il mudhari’ dan fi’il madhi tetapi bersambung juga dengan jumlah ismiyah seperti dalam contoh عجبت مما زيد قائم   tetapi seperti ini sedikit dipakai, dan yang lebih banyak ما  tersebut bersambung dengan zharfiyah mashdariyah dengan fi’il madhi dan mudhari’ yang dinafikan dengan huruf لم  contohnya لا أصحبك ما لم تضرب زيدا   dan sedikit sekali ما  mashdariyah zharfiyah tersebut bersambung dengan fi’il mudhari’ yang tidak dinafikan dengan لم  . cotohnya لا أصحبك ما يقوم زيد  .
Sebahagian dari pada maushul harfi itu adalah لو  yang bersambung dengan fi’il madhi atau fi’il muidhari’. Contoh dengan fi’il madhi وددت لو قام زيد  contoh dengan fi’il mudhari’ وددت لو يقوم زيد   
Maka dari penjelasan diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa maushul harfi itu ada lima :
1.        أَنْ
2.        أَنَّ
3.        كي
4.        ما
5.        لو  
Tanda dari pada maushul harafi ini adalah sah dia dijadikan sebagi masdar. Seperti dalam contoh وددت لو تقوم maka sah kita katakan dengan قيامك .
B.       Maushul Ismi
Adapun maushul ismi yaitu الذى (untuuk mufrad muzakkar), التى (mufrad mu’annats), maka apabila kedua isim tersebut ditasniyahkan maka ya pada kalimat tersebut hilang. Seperti الذان dan التان dengan alif dan nun pada ketika rofa’ kemudian الذين dan التين dengan ya dan nun pada ketika nasab dan jar.
Dalam hal ini boleh juga mentasydidkan nun karena sebagai ‘iwadh dari pada huruf ya yang telah dibuangkan. Maka dapat dikatakan dengan اللذانِّ (dengan tasydid nun) atau اللتانِّ (dengan tasydid nun). Menurut ulama kuffah tidak hanya mentasydidkan nun, tetapi boleh juga dengan mentasydidkan ya bersama nun, seperti اللذيِّنِّ dan اللتيِّنِّ . juga menurut ulama kuffah dalam masalah mentasdidkan  nun tidak hanya pada isim maushul tetapi boleh juga pada isim isyarah dengan tasydid nun, seperti dikatakan ذانِّ dan تانِّ begitu juga dengan mentsdidkan ya seperti ذيِّنِّ dan تيِّنِّ pada ketika ‘iwadh dari pada ya.
v      جَمْعُ الَّذِى الْأُولَى الَّذِيْنَ مُطْلَقَا                              وَ بَعْضُهُمْ بِالْوَاوِ رَفْعًا نَطَقَا
v      باللَّاتِ وَ اللَّاءِ الَّتِي قَدْ جُمِعَا                       وَ اللَّاءِ كَالَّذِيْنَ نَزْرًا وَقَعَا
Artinya:   jamak lafal الذى adalah الأولى dan الذين secara mutlak untuk di’irab rofa’, nasab, dan jar. Dan sebahagian ulama ada yang mengucapakan dengan waw  pada ketika rofa’. Adapun lafal الَّتى bentuk jamaknya adalah اللَّات, اللّاتى, dan اللَّاء. Adapun اللَّاءِ kadang-kadang suka datang seperti lafal الَّذِيْنَ yaitu digunakan untuk lafal jamak mujakkar.
(syarah bet)
الالى itu digunakan untuk zamak mudzakkar secara mutlak, apakah untuk berakal atau tidak berakal. Contoh: جائنى الالى فعلوا  , kadang kadang dipakaikan juga lafal الالى itu untuk mu’annats.
Lafal الَّذيْنَ diguanakan untuk jamak muzakkar yang berakal secara mutlak artinya dapat digunakan untuk tempat rofa’, nasab, dan jar.
Contoh rofa’: جائنى الذين أكرموا
Contoh nasab: رأيت الذين أكرموه
Contoh jar: مررت بالذين اكرموه
Tetapi sebahagian orang arab (hujail) mengatakan bahwa pada الَّذيْنَ ketika rofa’ dengan waw maka dikatakan الذون dan nasab/jar dengan ya dengan الَّذيْنَ
Pada ketika jamak mu’annats digunakan dengan lafal اللات dan اللاء dengan dibuangkan ya, seperti dalam contoh جائنى اللات فعلن و اللاء فعلن  . dan  boleh juga dengan tidak membuangkan ya, seperti اللاتى dan اللائي. Kadang kadang اللاء itu bermakna الذين .
v     وَ مَنْ وَ مَا وَ ألْ تُسَاوِى مَا ذُكِرْ                   وَ هَكَذَا ذُو عِنْدَ طَيِّئِ شُهِرْ
v     وَ كَالَّتِي أَيْضًا لَدَيْهِمْ ذَاتُ                          وَ مَوْضِعَ اللَّاتِي أَتَى ذَوَاتُ
Artinya:   adapun lafal man, maa, dan alif lam, menyerupai semua lafal maushul yang telah diterangkan, demikian pula lafal dzuu menurut orang-orang thayyi sunggguh telah masyhur. Dan menurut orang-orang thayyi, lafal ذات  sama seperti الَّتي untuk mufrad mu’annaats, dan pada tempat اللّاتي ada pula lafal ذوات  (yang bertempat pada jamak mu’annats salim).
(syarah bet)
Dalam bet ini mushannif menyebutkan bahwa مَنْ, مَا ,ألْ itu adalah masing-masing lafal yang digunakan untuk mufrad, tatsniyah, dan jamak apakah dia mu’annats atau muzakkar. Seperti dalam contoh muzakkar: جاء من قام و من قاما و من قاموا . boleh juga untuk muannats, seperti dalam contoh: جاء من قامت و من قامتا و من قمن . begitu juga untuk contoh isim maushul lainnya, seperti أل kita lihat dalam contoh جائنى القائم و القائمة dst.
Kebanyakan isim maushul dengan ما itu digunakan untuk yang  tidak berakal, kadang-kadang saja digunakan untuk yang berakal, seperti dalam firman allah SWT: فَانْكِحُوْا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى . dan isim maushul dari pada من  itu kebalikan dari ما artinya kebanyakan digunakan untuk berakal dan kadang-kadang digunakan untuk yang tidak berakal, contoh tidak berakal seperti dalam firman Allah SWT: وَ مِنْهُمْ مَنْ يَمْشِى  . adapun alif lam (أل) itu digunakan untuk orang yang berakal dan orang yang tidak berakal, seperti dalam contoh: جائنى القائم و المركوب . dalam hal ini (أل) ada perbedaan pendapat, satu qaum menyatakan bahwa (أل) itu adalah isim maushul, ini shahih. Dan ada juga yang menyatakan bahwa (أل) itu huruf maushul, ada juga yang menyatakan itu huruf ta’rif bukan dari mashul pada sesuatu apapun.
Adapun ما  dan من keduanya bukan mashdar, hanya saja keduanya adalah dua isim yang sama, tetapi ما itu adalah mashdariyah. Menurut pendapat yang shahih bahwasanya ما itu adalah huruf, dan menurut al-akhfasy bahwasanya ما itu adalah isim.
Menurut thayyi ذو dipakai untuk isim maushul baik untuk berakal atau tidak berakal, dan merupakan suatu lafaz yang digunakan untuk mufrad, tatsniyah, jamak, baik muzakkar atau mu’annats, seperti kita lihat dalam contoh  muzakkar: جائنى ذو قام وذو قاما و ذو قاموا begitu juga contoh untuk mu’annats seperti: جائنى ذو قامت و ذو قامتا و ذو قمن .
Dalam keterangan bet selanjutnya mengatakan bahwa lafal ذو  bisa ditasniyahkan dan dijamakkan sama seperti lafal الَّتى. Adapun tasniyah ketika muzakkar  seperti (ذوا) ketika jamak seperti (ذُوُوْ) keduanya pada tempat rofa’. Adapun pada tempat nasab dan jar pada ketika tasniyah seperti ذُوَيْ  , dan pada ketika jamak muzakkar sepeti ذُوِيْ . jika pada tempat muannats maka tatsniyah seperti (ذُواتَا) pada ketika rofa’, dan ذُوَاتَي  pada ketika nasab dan jar. Adapun jamak ketika mu’annats seperti ذُواتُ  yang dibina atas dhammah, tetapi menurut syekh baha’uddin bin nuhas bahwa i’rab dari ذُواتُ itu dengan i’rab jamak mu’annats (dhammah, kasrah,kasrah).
Tetapi yang lebih masyhur bahwa ذو yang berbentuk maushul itu di i’raab dengan bina, ada juga sebagian ulama nahwu bahwa ذو di i’rab ketika rofa’ dengan waw, ketika nasab dengan alif, ketika jar dengan ya. Seperti contoh,
Contoh rofa’: جائنى ذو قام
Contoh nasab: رأيتُ ذا قَامَ
Contoh jar: مررت بذي قام
Adapun ذات itu sama seperti ذوات  , menurut pendapat yang fashih bahwa kalimat tersebut dibina atas dhammah, apakah pada tempat rofa’, nasab, dan jar. Ada juga sebahagian ulama yang mengatakan kalimat tersebut tidak bina, i’rabnya sama seperti مسلمات dengan dhammah pada ketika rofa’, dan kasrah pada ketika nasab, dan jar.
v       وَ مِثْلُ مَا ذَا بَعْدَ مَا اسْتشفْهَامِ                      أَوْ مَنْ إِذَا لَمْ تُلْغَ فِى الْكَلَامِ
Artinya:   adapun lafal ذَا  yang berada sesudah ما istifham seperti ما dalam penggunaanya atau seperti من  bila tidak menganggur dalam kalam (dikosongkan).

(Syarah Bet)
Maksud dari bet tersebut adalah bahwa ذَا merupakan isim isyarah yang terkhusus digunakan untuk isim maushul yang sama seperti ما  , yang dapat digunakan untuk mufrad, tatsniyah, jamak, mujakkar maupun mu’annats. Seperti dalam contoh: مَنْ ذَا عِنْدَكَ  atau مَا ذَا عِنْدَكَ  apakah kalimat عِنْدَ tersebut ditujukan untuk mujakkar atau mu’annats.
Adapun syarat ذَا  menjadi isim maushul yaitu, harus didahului oleh مَا  atau مَنْ istifham, Seperti dalam contoh:
مَنْ ذَا جَاءَكَ = maka من itu isim istifham yang jadi mubtada’, dan ذَا  itu sebagai isim maushul yang bermakna الَّذي  yang menjadi khobar dari من , dan جَاءَكَ shilat maushul, takdirnya seperti الَّذِي جَاءَكَ .
مَا ذَا فَعَلْتَ = maka مَا  adalah isim istifham yang menjaadi mubtada’, dan ذَا itu sebagai isim maushul yang menjadi khobar dari مَا, dan فَعَلْتَ itu sebagai shilat dari isim maushul, dengan takdirnya adalah الَّذِى فَعَلْتَ  sedangkan ‘aidnya telah dibuangkan, takdirnya adalah مَا ذَا فَعَلْتَهُ  atau مَا الَّذِى فَعَلْتَهُ  .
Disyaratkan juga   مَا atau مَنْ  itu bukan ilgho’ dalam kalam, dalam arti bahwa ما  atau من  bersama ذَا  adalah kalimat yang satu dalam istifham, contohnya: مَاذَا عِنْدَكَ = maka مَاذَا adalah mubtada’, dan عِنْدَكَ adalah khobarnya.
من ذَا عِنْدَكَ = maka من ذَا adalah mubtada’, dan عِنْدَكَ adalah khobarnya.
Tetapi dua contoh ini مَاذَا عِنْدَكَ dan من ذَا عِنْدَكَ juzu’ yang kedua yaitu ذَا adalah ilgho’, karena telah bersatu dengan huruf istifham.
v     وَ كُلُّهَا يَلْزَمُ بَعْدَهُ صِلَةْ          عَلَى ضَمِيْرٍ لَائِقِ مُشْتَمِلَةِ
Artinya:  adapun semua isim maushul (dan huruf maushul) sesudahnay itu harus memakai shilah (penghubung) dan dhamir yang kembali kepadannya (yang disebut dengan marji’ dhamir) yang mencakup dan seimbang dengan maushulnya (dalam hal mufrad, tasniyah, jamak, mujakkar ataupun mu’annats).

(Syarah Bet)
Seluruh isim maushul apakah dia berbentuk isim atau huruf lajim setelahnya shilat yang akan menjelaskan makna dari isim maushul. Adapun syarat dari pada shilat isim maushul adalah “bahwa shilat tersebut harus sesuai dhamirnya dengan isim maushulnya. Jika isim mauhsulnya mufrad maka shilatnya juga harus mufrad, seperti muzakarnya: جَائَنِى الَّذِى ضَرَبْتَهُ , dan mu’annatsnya seperti: جَائَتْ الَّتِى ضَرَبْتِهَا, jika maushulnya berbentuk tasniyah maka shilatnya juga berbentuk tasniyah, muzakkarnya seperti: جَائَنِى اللَّذَانِ ضَرَبْتَهُمَا  , dan mmu’annatsnya seperti: جَائَتْ الَّتَانِ ضَرَبْتِهُمَا , jika maushulnya berbentuk jamak maka shilatnya juga harus berbentuk jamak, muzakkarnya seperti: جَائَنِى الَّذِيْنَ ضَرَبْتَهُمْ , dan mu’annatsnya seperti: جَائَتْ اللَّاتِ ضَرَبْتِهُنَّ  .
Adapun ما  dan من  itu adalah lafal yang berbentuk mufrad mujakkar yang dapat digunakan pada makna mutsanna dan jamak, jika ditujukan kepada mutsanna dan jamak. Dalam hal ini dibolehkan seperti itu hanya saja untuk menjaga makna dan lafalnya. Contohnya: أَعْجِبُنِى منْ قَامَ وَ من قَامَتْ وَ منْ قَامَا وَ منْ قَامَتَا وَ منْ قَامُوْا وَ منْ قُمْنَ begitu juga dengan ما .
v     وَ جُمْلَةٌ أَوْ شِبْهُهَا الَّذِى وُصِلْ            بِهِ كَمَنْ عِنْدِي الَّذِى ابْنُهُ كُفِلْ
artinya:     lafal yang dipakai shilah maushul itu adakalanya terdiri dari jumlah (ismiyah atau fi’liyah) atau syibih jumlah (zharaf atau jar majrur), seperti dalam contoh: مَنْ عِنْدِي الَّذِى ابْنُهُ كُفِلَ  (siapa yang berada dekat saya yang anaknya itu dipelihara).

(Syarah Bet)
Shilat maushul itu bisa berbentuk jumlah atau syibhil jumlah (zharaf atau jar majrur), hanya saja syibhil jumlah itu tidak menjadi shilat dari isim maushul alif dan lam (أل) .
Adapun syarat shilat maushul yang berbentuk jumlah ada 3, yaitu:
1.        Jumlah itu harus berbentuk khabariyah, maka dikecualikan jumlah yang bukan berbentuk khabariyah, seperti berbentuk thalabiyah dan insya’iyyah, contoh thalabiyah: جَائَنِى الَّذِى إِضْرِبْهُ  , maka thalabiyah tersebut tidak dikatakan jumlah, berbeda dengan pendapat al-kasa’i yang mengatakan termasuk jumlah. Contoh insya’iyah: جَائَنِى الَّذِى ليته قَائِمٌ  , maka insy’iyah  tersebut tidak dikatakan jumlah, berbeda dengan pendapat yang mengatakan insya’iyah itu jumlah.
2.        Bukan bermakna ta’ajjub, dan tidak juga berbentuk jumlah ta’ajjub, seperti جَائَنِى الَّذِى مَا أَحْسَنَهُ   . jumlah ta’ajjub.
3.        Jumlah itu tidak butuh kepada kalam sebelumnya, jika kalam itu butuh kepada kalam sebelumnya seperti جَائَنِى الَّذِى لَكِنَّهُ قَائِمٌ  maka tidak dikategorikan kepada jumlah.
Adapun syarat syibhul jumlah (jar majrur dan zharaf) harus sempurna, yang dikatakan dengan sempurna adalah ketika isim maushul bersambung dengan jar majrur atau zharaf yang sebagai syibhul jumlah tersebut berfaedah. Contoh: جَاءَ الَّذِى عِنْدَكَ atau جَاءَ الَّذِى فِى الدَّارِ , maka tidak sah syibhul jumlah jika washal antara isim maushul dan jar majrur atau zharaf tidak berfaedah, seperti جَاءَ الَّذِى بِكَ  atau جَاءَ الَّذِى اليَوْمَ
v     وَ صِفَةٌ صَرِيْحَةٌ صِلَةُ أَلْ                   وَ كَوْنُهَا بِمُعْرَبِ الْأَفْعَالِ قَلَّ
Artinya:   adapun shilah maushul dengan alif lam, harus dengan isim sifat yang sharih (yaitu isim fa’il atau maf’ul atau sifat musyabbahat). Dan keadaan shilah dengan fi’il mu’rab seperti mudhari’ jarang terjadi.

(Syarah Bet)
Adapun alif dan lam (أل) itu menjadi isim maushul apabila bersambung dengan shifat yang sharih, yang dikatakan dengan shifat sharih adalah isim fai’il seperti: الضَارِبُ dan isim maf’ul seperti: المَضْرُوْبُ dan shifat musyabbihah seperti: ألحَسَنُ الوَجْهُ . berbeda pendapat tentang alif dan lam (أل) yang masuk kepada shifat musyabihah ada yang mengatakan termasuk isim maushul dan ada juga yang mengatakan itu bukan isim maushul. Tetapi menurut syekh abi hasan bin ‘ashfur dalam masalah ini dia mengatakan sekali kali adalah isim maushul dan kali yang lain dia mengatakan bukan isim maushul.
Jarang sekali shilat yang berbentuk fi’il mudhari’ yang dimasuki oleh alif dan lam, seperti yang disebutkan dalam bet وَ كَوْنُهَا بِمُعْرَابِ الْأَفْعَالِ قَلَّ  , seperti dalam sebuah contoh : مَا أَنْتَ بِالْحُكْمِ التُّرْضَى حُكُوْمَتُهُ * وَ لَا الْأَصِيْلِ وَ لَا ذِى الرَّأْيِ وَ الْجَدَلُ    (kamu itu bukanlah orang yang dapat disetujui keputusan antara dua orang, juga bukan keturunan orang yang mulia, tidak mampu berpikir dan tukang bertengkar). Dari contoh tersebut lafal التُّرْضَى adalah fi’il mudhari’ yang beralif dan lam dan menjadi shilah dari أل  . dalam hal ini alif lam yang masuk pada mudhari’, menurut jumhur ulama bashariin itu khusus dipakai dalam syi’ir, sedangkan mushannif (ibnu malik) mengatakan tidak hanya digunakan untuk syi’ir, tapi boleh juga untuk lainnya dalam keadaan ikhtiyar.
Jarang juga (syadz) shilah itu berbentuk jumlah ismiyah atau zharaf. Contoh shilat berbentuk jumlah ismiyah: من القوم الرسول الله منهم * لهم دانت رقاب بنى معد  , contoh shilat berjumlah zharaf seperti: من لا يزال شاكرا على المعه, فهو حر بعيشة ذات سعة  


v      اي كما و اعربت ما لم تضف           و صدر وصلها ضمير انحذف
Artinya:   lafal اي sama seperti ما  (dalam segala hal), selama tidak idhafahkan permulaan shilahnya adalah dengan isim dhamir yang terbuang.
(Syarah Bet)
Kalimat اي adalah satu kalimat yang digunakan untuk muzakkar, muannats, mufrad, tatsniyah, dan jamak. Kalimat اي itu terbagi kedalam 4 keadaan :
1.        Dia di idhafahkan dan disebutkan shadar shilatnya. Seperti dalam contoh: يعجبني أيهم هو قائم
2.        Bahwa dia tidak di idhafahkan dan tidak disebutkan shadar shilatnya. Contoh: يعجبنى اى قائم
3.        Bahwa tidak di idhafahkan dan disebutkan shadar shilatnya. Contoh : يعجبنى اي هو قائم
4.        Bahwa dia di idhafahkan dan dibuang shadar shilatnya . pada contoh : يعجبنى ايهم قائم
Dari ke 4 bagian tersebut mulai dari 1 – 3 itu mu’rab dengan harkat yang tiga, yaitu rofa’, nasab, dan jar. Adapun contoh diidhafahkan dan disebutkan shadar shilatnya, yaitu:
Contoh ketika rofa’ : يُعْجِبُنِى اَيُّهُمْ هو قَائِمٌ
Contoh ketika nashab : رَاَيْتُ ايَّهُمْ هُوَ قَائمٌ
Contoh ketika jar : مررت بِاَيِّهِمْ هُوَ قَائِمٌ
Bagitu juga yang tidak diidhafahkan dan tidak disebutkan shadar shilatnya, contohnya rofa’ : يُعْجِبُنِى أَيُّ قَائِمٌ  
Contoh nasab: رَأَيْتُ  أَيَّ قَائِمٌ  
Contoh jar:  مَرَرْتُ بِأَيِّ قَائِمٌ   
Begitu juga yang tidak diidhafahkan dan disebutkan shadar shilatnya, seperti contoh rofa’ : أَيُّ هُوَ قَائِمٌ  
Contoh nasab : أَيَّ هُوَ قَائِمٌ  
Contoh jar : أَيِّ قَائِمٌ  
Kemudian pada poin nomor 4 itu bina atas dhammah apakah dia pada tempat rofa’ nasab dan jar, contoh pada tempat rofa’: يُعْجِبُنِى أَيُهُمْ قَائِمٌ  , contoh nasab: رَأَيْتُ أَيُّهُمْ قَائِمٌ  , contoh jar: مَرَرْتُ بِأَيِّهِمْ قَائِمٌ  . hal ini terdapat dalam firman allah swt:
ثُمَّ لَنَنْزِعَنَّ مِنْ كُلِّ شِعَةٍ أَيُّهُمْ أَشَدُّ
v     وَ بَعْضُهُمْ أَعْرَبَ مُطْلَقًا وَ فِى                       ذَا الْحَذْفِ أَيٌّا غَيْرُ أَيِّ يَقْتَفِى
Artinya:   adapun sebagian orang arab biasanya mengi’rabkan kepada lafal ayyun dengan mutlak dan tidak melarang membuang shadar shilahnya, selain ayyun pun biasanya mengikuti ayyun, dengan syarat:

v     إِنْ يُسْتَطَلْ وَصْلٌ وَ إِنْ لَمْ يُسْتَطَلْ                  فَالْحَذْفُ نَزْرٌ وَ أَبَوْا أَنْ يُخْتَزَلْ
v     إِنْ صَلُحَ الْبَاقِى لِوَصْلٍ مُكْمِلِ                     وَ الْحَذْفُ عِنْدَهُمْ كَثِيْرٌ مُنْجَلِى
Artinya:   kalau dianggap shilahnya panjang yaitu lebih dari satu shilah, maka boleh dibuang shilahnya. Kalau shilahnya tidaka panjang, maka membuang shadar shilatnya itu jarang sekali, ulama nahwiyyin menolak untuk memutuskan (membuang shilahnya) lagi sesudah membuang shadar shilah itu, meskipun kalimat sisanya masih bisa menyempurnakan shilah. Dan membuangkan shilah menurut ulama nahwiyyin banyak sekali yang jelas, seperti dlam bet berikut:

v     فِى عَائِدٍ مُتَّصِلٍ إِنِ انْتَصَبْ                        بِفِعْلٍ أَوْ وَصْفٍ كَمَنْ نَرْجُوْ يَهَبْ
Artinya:   dalam dhamir yang kembali muttashil, kalau dhamir itu menerima i’rab nashab oleh fi’il atau shifat, seperti: مَنْ نَرْجُوْا يَهَبْ  aslanya مَنْ نَرْجُوْهُ يَهَبْ  



(Syarah Bet)
وَ بَعْضُهُمْ أَعْرَبَ مَطْلَقًا , sebahagian orang ‘arab, mengi’rabkan lafal أيّ  secara mutlak, artinya tidak ada bina dan mu’rab dalam hal i’rab apakah shadar shilatnya disebutkan atau dibuang atau apakah dia di idhafahkan atau tidak. Maka dia berlaku pada ketika rofa’ dengan dhammah, ketika nasab dengan fathah, ketika jar dengan kasrah. Maka dari itu seperti firman allah  ثُمَّ لَنَنْزِعَنَّ أَيَّهُمْ أشَدُّ dalam satu qira’at أَيَّهُمْ itu dibaca dengan nasab, bukan bina atas dhammah. Dan ada riwayat yang mengatakan bahwa lafal أيّ terlebih afdhal dengan jar.
ذَا الْحَذْفِ أَيَّا غَيْرُ أَيِّ يَقْتَفِى , dalam bet ini menjelaskan bahwa lafal yang selain ayyun (seperti الّذى, الَّتى, الخ ) juga mengikuti lafal ayyun sampai kepada tempat pembuangan ‘aidnya, apakah ‘aidnya berbentuk marfu’, mansub, majrur dsb. Hanya saja dalam masalah selain ayyun pada ketika marfu’ pembuangan ‘aid itu bisa dilakukan apabila mubtada dan khabarnya itu berbentuk mufrad. Maka tidak boleh dikatakan Seperti contoh: جَائَنِى اللَّذَانِ قامَ dengan membuangkan dhamir ‘aidnya , karena dalam contoh tersebut  mubtada’ dan khabarnya berbentuk tasniyah (bukan mufrad), yang benar dalam contoh tersebut adalah  جَائَنِى اللَّذَانِ قَامَا .
Mubtada’ (shadar shilat) ayyun sekalipun tidak panjang itu boleh dibuangkan sebagaimana contoh-contoh diatas tentang pembagian keadaan ayyun. Seperti contoh: يعجبنى ايهم قائم  , tetapi isim maushul yang selain ayyun, mubtada’nya (shadar shilatnya) itu tidak  boleh dibuang  apabila shadar shilatnya itu pendek, walaupun ada yang membolehkannya tetapi sedikit orang melakukannya, tetapi apabila shadar shilatnya selain ayyun tersebut panjang, maka membuang mubtadanya (shadar shilatnya) boleh dilakukan, seperti dalam contoh:  جَاءَ الَّذِى هُوَ ضَارِبٌ زَيْدًا  maka boleh dikatakan جَاءَ الَّذِى ضَارِبٌ زَيْدًا  dengan dibuangkan mubtadanya yaitu هُوَ  karena shadar shilatnya panjang. Dan menurut ulama-ulama kuffah mengatakan bahwa boleh membuangkan mubtada (shadar shilat) dari selain ayyun walupun shilat itu pendek karena berdasarkan qiyas, seperti dalam contoh: جَاءَ الَّذِى قَائِمٌ  dengan membuangkan shadar shilatnya, yang asalnya adalah جَاءَ الَّذِى  هُوَ قَائِمٌ  , ulama kuffiyyin juga membolehkan pada contoh لَا سِيمَا زَيْدٌ dengan dibaca rofa’ pada kaliamat زَيْدٌ  dengan alasan bahwa مَا  itu adalah isim maushul, dan زَيْدٌ adalah khobar  dari mubtada’ yang telah dibuangkan yaitu هُوَ  , yang sebenarnya dalam contoh itu ialah لا سِي الَّذِى هُوَ زَيْدٌ  , yang kemudian dibuangkan ‘aid dari الَّذِى yaitu هُوَ. Dalam contoh ini لَا سِيمَا زَيْدٌ merupakan tempat selain isim maushul ayyun  yang wajib dibuangkan shadar shilatnya,dan dalam hal ini tidak dikatakan syadz, karena isyarah dari perkataan mushannif adalah وَ أَبَوْا أَنْ يُحْتَزَلْ  .
إِنْ صَلُحَ الْبَاقِى لِوَصْلٍ مُكْمِلِ dalam bet ni menjelaskan bahwa syarat pembuangan shadar shilat dari ayyun atau selain ayyun itu bisa dilakukan apabila setelah shadar shilat itu bukan berupa jumlah atau jar majrur/zharaf (dalam bentuk sempurna). Maka apabila setelah shadar shilat itu berupa jumlah yang sempurna maka pembuangan shadar shilat itu tidak boleh dilakukan, seperti dalam contoh (jumlah):  جَاءَ الَّذِى هُوَ اَبُوْهُ مُنْطَلِقًا  atau jar majrur: جَاءَ الَّذِى هُوَ فِى الدَّارِ  atau zharaf: جَاءَ الَّذِى هُوَ عِنْدَكَ  , maka dari contoh-contoh tersebut tidak boleh dibuangkan shilatnya, seperti kita katakan: جَاءَ الَّذِى اَبُوْهُ مُنْطَلِقًا atau جَاءَ الَّذِى فِى الدَّارِ atau جَاءَ الَّذِى عِنْدَكَ  walaupun dengan sebab pembuangan shadar shilat ini status kalam masih sempurna, karena jika shadar shilat tersebut dibuangkan maka status yang sebenarnya dari kalam tersebut tidak diketahui, apakah ada pemuangan shadar shilat atau tidak.
Dari hukum hukum diatas tidak hanya berlaku pada isim dhamir yang statusnya sebagai shadar shilat dan mubtada, yang terpenting dari itu adalah apabila ada kalam yang jika tidak diketahui buang atau tidak buang maka tidak boleh ‘aidnya itu dibuang, atas dasar itu maka jika ada shilat yang bersambung dengan isim dhamir yang statusnya sebagai ‘aid dari isim maushul dan didepannya merupakan jumlah atu jar majrur dan zhorof maka ‘aid tersebut tidak boleh dibuangkan, seperti dalam contoh: جَاءَ الَّذِى ضَرَبْتُهُ فِى دَارِهِ  maka tidak boleh kita katakan dengan جَاءَ الَّذِى ضَرَبْتُ فِى دَارِهِ  dengan membuangkan dhamir الهاء  pada kalimat ضَرَبْتُهُ karena panbuangan tersebut tidak diketahui nantinya.
وَ الْحَذفُ عندَهُمْ كَثِيْرٌ مُنْجَلِى....الخ dalam bet ini menjelaskan bahwa ‘aid itu boleh dibuang dengan syarat apabila ‘aid itu dhamir muttashil yang manshub dengan ‘amil dengan fi’il yang tam atau dengan shifat, seperti dalam contoh (fi’il tam): جَاءَ الَّذِى ضَرَبْتُهُ  , dan contoh shifat: جَاءَ الَّذِى أَنَا مُعْطِيْكُهُ دِرْهَمٌ  maka boleh kita katakan dengan جَاءَ الَّذِى ضَرَبْتُ atau جَاءَ الَّذِى أَنَا مُعْطِيْكُ دِرْهَم , pembuangan ‘aid yang manshub beserta fi’il itu banyak sekali dilakukan, dan sedikit sekali pembungan ‘aid yang manshub dengan shifat. Tetapi apabila ‘aid itu dhamir munfashil yang manshub maka ‘aid tersebut tidak boleh dibuangkan, seperti dalam contoh: جَاءَ الَّذِى إِيَّاهُ ضَرَبْتُ maka tidak boleh kita katakan dengan جَاءَ الَّذِى ضَرَبْتُ dengan dibuangkan إِيَّاهُ , begitu juga apabila ‘aid yang manshub dengan huruf, maka ‘aid tersebut tidak boleh dibuangkan, contohnya: جَاءَ الَّذِى أَنَّهُ مُنْطَلِقٌ   maka tidak boleh dikatakan جَاءَ الَّذِى أَنَّ مُنْطَلِقٌ dengan dibuangkan dhamir pada أَنَّهُ , tidak boleh juga dibuangkan ‘aid apabila dia merupakan dhamir yang muttashil dengan fi’il naqish, seperti dalam contoh: جَاءَ الَّذِى كَانَهُ زَيْدٌ  maka tidak boleh dikatakan dengan جَاءَ الَّذِى كَانَ زَيْدٌ , dapat kita simpulkan bahwa ‘aid boleh dibuangkan dengan syarat:
1.        Dhamir yang manshub dengan fi’il atau shifat
2.        ‘aidnya Bukan dhamir munfashil manshub
3.        Bukan manshubnya disebabkan muttashil dengan huruf
4.        Bukan manshubbnya disebabkan muttashil dengan fi’il naqish
v     كَذَاكَ حَذْفُ مَا بِوَصْفٍ خُفِضَا                   كَأَنْتَ قَاضٍ بَعْدَ أَمْرٍ مِنْ قَضَى
v     كَذَا الَّذِى جُرَّ بِمَا الْمَوْصُوْلَ جَرْ                   كَمُرَّ بِالَّذِى مَرَرْتُ فَهُوَ بَرْ
Artinya:   demikian juga boleh membuang shilah yang dijarkan oleh shifat, seperti أَنْتَ قَاضٍ  yang terjadi setelah amar dari kata قضى , demikian juga boleh membuangkan dhamir yang dijarkan oleh huruf jar, dan huruf jar itu dipakai juga untuk menjarkan isim maushul, seperti مَرَّ بِالَّذِى مَرَرْتُ فَهُوَ بَرْ

(Syarah Bet)
Dari bet tersebut menjelaskan tentang dhamir ‘aid yang majrur, apakah majrur itu dengan idhafah atau dengan huruf.
Apabila ‘aid tersebut majrur dengan idhafah maka ‘aid itu tidak boleh dibuangkan melainkan idhafahnya dengan shifat  (isim fai’il / isim maf’ul) yang bermakna hal atau istiqbal, seperti dalam contoh: جَاءَ الَّذِى أَنَا ضَارِبُهُ الآن أَوْ غَدًا maka boleh dibuangkan الهاء pada kalimat ضَارِبٌ  sebagai ‘aid dari isim maushul, karena isim fa’il tersebut bermakna hal atau istiqbal, lain halnya ‘aid itu tersebut idhafah dengan isim fa’il yang bukan bermakna hal atau istiqbal, maka pembuangan ‘aid yang majrur itu tidak boleh dilakukan. Seperti dalam firman allah: فَاقْضِ مَا أَنْتَ قَاضٍ  asalnya adalah مَا أَنْتَ قَضِيْهِ  
Apabila ‘aid tersebut majrur dengan huruf maka ‘aid tersebut tidak boleh dibuangkan melainkan apabila huruf yang menjarkan ‘aid tersebut juga menjarkan isim maushul dengan lafaz hurur jar yang sama dan makna yang sama (‘amilnya dalam satu maddah). Seperti dalam contoh: مَرَرْتُ بِالّذِى مَرَرْتُ  بِهِ   maka boleh dikatakan مَرَرْتُ بِالّذِى مَرَرْتُ dengan dibuangkan dhamir الهاء  . hal ini seperti dalam firman Allah SWT: وَ يَشْرَبُ مِمَّا تَشْربون  dari ayat telah dibuangkan ‘aid dari isim maushulnya yaitu مِنْهُ  asal dari  ayat tersebut adalah  وَ يَشْرَبُ مِمَّا تَشْربون مِنْهُ  . maka apabila huruf yang menjarkan ‘aid tersebut berbeda dengan amil yang menjarkan isim maushul atau berbeda makna antara yang menjarkan dhamir dengan yang menjarkan isim maushul atau berbeda muta’allaqnya maka ‘aid tersebut tidak boleh dibuangkan, seperti dalam contoh beda makna:عَلَى زَيْدٍ    مَرَرْتُ بِالّذِى مَرَرْتُ  بِهِmaka ‘aid dari isim maushul (بِهِ) tidak boleh dibuangkan, karena berbeda makna dengan بِالّذِى dalam arti الباء  yang masuk dengan isim dhamir bermakna سببييّة sedangkan الباء  yang masuk dengan isim maushul bermakna الصاق  , adapun contoh beda amil: مَرَرْتُ بِالَّذِى مَرَرْتُ عَلَيْهِ  maka tidak boleh dikatakan مَرَرْتُ بِالَّذِى مَرَرْتُ , adapun contoh beda ta’alluq: مَرَرْتُ بِالَّذِى فَرَحْتُ بِهِ  maka tidak boleh dikatakan مَرَرْتُ بِالَّذِى فَرَحْتُ

وَ اللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ